Category: Wisata Goa

Bertandang ke Gua Tanding di Gunung Kidul

Ada banyak pilihan wisata di Yogyakarta. Tujuan yang bisa dipilih adalah wisata alam. salah satu wisata gua di Yogyakarta yang terkenal adalah Gua Pindul. Sebagian masyarakat Indonesia sudah tidak asing dengan tempat wisata yang satu ini. Di musim liburan, Gua Pindul akan sangat dipadati oleh wisatawan dari dalam ataupun luar negeri. Menghadapi masifnya keinginan wisatawan untuk berkunjung menyebabkan pihak pengelola mencari alternatif lain.

Wisata alam baru yang ditawarkan bernama Wisata Gua Tanding. Berada di selatan Gua Pindul di Gunung Kidul, tepatnya di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gua Tanding bisa menjadi alternatif destinasi wisata alam. konsep yang ditawarkan hampir sama dengan Gua Pindul. Gua Tanding memiliki lebar sekitar 4 hingga 8 meter. Jarak antara permukaan air sungai yang mengalir hingga atap gua sekitar 4 hingga 11 meter.

Jika di Gua Pindul pengunjung menyusuri gua menggunakan karet ban yang terpisah, di Gua Tanding pengunjung menyusuri sungai sejauh 450 meter menggunakan satu perahu karet yang dapat diisi maksimal 6 orang. Selama kurun waktu 1,5 jam, pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai keindahan stalaktit dan stalagmit aktif yang menghiasi Gua Tanding. Berbeda dengan Gua Pindul, Gua Tanding hanya memiliki satu mulut gua yang dijadikan pintu masuk dan pintu keluar.

Walaupun dibuka sebagai alternatif ketika Gua Pindul sesak oleh pengunjung, bukan berarti penamaan Gua Tanding diharap menjadi tandingan. Kata “Tanding” diambil dari nama salah satu warga yang menemukan gua tersebut. Harga tiket masuk ke Gua Tanding sebesar 150 ribu rupiah untuk wisatawan dalam negeri dan 200 ribu rupiah untuk wisatawan luar negeri. Sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan Gua Pindul, tapi jangan khawatir, biaya yang dikeluarkan akan sebanding dengan apa yang akan didapatkan.

Uang yang dibayarkan sebagai harga tiket masuk sudah termasuk biaya retribusi, perlengkapan keamanan selama menyusuri gua, perahu karet dan pemandu. Selain itu, pengunjung juga akan mendapat makanan ringan dan atau minuman hangat setelah puas menjelajahi isi gua.

Selain itu, sekitar 20 meter ke bawah dari pintu masuk, akan ditemukan tempat terapi ikan. Pengunjung yang kelelahan bisa relaksasi sejenak. Ada juga hal lain yang bisa dinikmati di Gua Tanding, yaitu rappeling rope menuju dasar gua, melihat keindahan Kedung Buntung serta merasakan segarnya mata air Ngancar.

Belajar Pewayangan di Gua Kiskendo Kulon Progo

Gua Kiskendo di Kulonprogo menjadi salah satu destinasi wisata gua di Yogyakarta yang harus dikunjungi. Apalagi bagi masyarakat yang senang dengan cerita pewayangan, Gua Kiskendo memiliki cerita yang menakjubkan. Terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Gua Kiskendo siap menawarkan sensasi yang berbeda bagi para wisatawan.

Hal yang menarik perhatian wisatawan bisa langsung dilihat ketika sampai di mulut gua. Ada sebuah relief atau lukisan pada dinding yang menceritakan petarungan antara kakak beradik Mahesura-Lembu Sura seta Subhali-Sugriwa. Gua Kiskendo merupakan tempat bertarungnya 2 kakak beradik tersebut. Menurut mitos, Mahesura dan Lembu Sura merupakan raksasa. Suatu hari Mahesura ingin mempersunting Dewi Tara dari kahyangan. Seluruh dewa menolak pinangan tersebut.

Tidak terima, Mahesura dan Lembu Sura menghancurkan kahyangan. Setelah itu, para dewa bermusyawarah untuk membawa kembali Dewi Tara ke Kahyangan. Diputuskan bahwa Subali yang akan bertarung dengan pasangan raksasa tersebut. Ditemani adiknya, Sugriwa, Subali berangkat ke Gua Kiskendo dan mengalahkan Mahesura dan Lembu Sura.

Terlepasa dari mitos yang dipercaya hingga saat ini, gua yang disakralkan oleh masyarakat setempat tetap bisa dinikmati dari bentuk bangunannya. Seperti gua lain, ada stalakmit dan stalagtit yang menghiasi isi gua. Pengunjung juga tidak perlu khawatir ketika masuk dalam gua karena jalan telah dielola dengan baik oleh penduduk setempat.

Pengunjung bisa menyewa pemandu yang ada di lokasi untuk menjelaskan lebih rinci mengenai berbagai macam ruang yang ada di Gua Kiskendo. Gua Kiskendo yang ditemukan pad 1825 berasal dari akronim kikisan Kedu lan Jogja yang berarti perbatasan Kedu dan Jogja. Hal menarik lainnya adalah, di tengah perjalanan dalam gua ini, pengunjung akan menemukan kendi yang berisi air bersih yang menetes dari stalaktit yang ada. Air dalam kendi tersebut bisa langsung diminum oleh para pengunjung.

Jangan lupa untuk membawa senter atau head lamp ketika menyusuri gua ini karena walaupun sudah ada penerangan yang terpasang, tetap saja terasa gelap. Panjang gua yang mencapai 1 kilometer tidak terasa melelahkan karena udara sejuk Pegunungan Menoreh. Setelah menapaki isi gua, pengunjung bisa istirahat di taman dan tempat bermain yang telah disediakan. Lahan sekitar Gua Kiskendo juga biasa digunakan untuk outbond dan kemah bagi para pengunjung. Semua keindahan dan fasilitas yang disediakan pengelola bisa dinikamti oleh pengunjung dengan hanya mengeluarkan biaya sebesar lima ribu rupiah per orang.

Masa Lalu Memiliki Bukti di Gua Sriti

Mempelajari peristiwa sejarah akan semakin lengkap jika bisa mengunjungi lokasi dimana peristiwa tersebut terjadi. Selain untuk lebih memperdalam pengetahuan, mengunjungi lokasi sejarah memiliki sensasi tersendiri bagi para pengunjung. Hal tersebut bisa dirasakan bagi siapa saja yang mengunjungi Gua Sriti di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Gua Sriti menjadi salah satu destinasi wisata gua di Yogyakarta.

Gua Sriti bisa ditempuh dengan melintasi jarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta ke lokasinya yang terletak di Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh. Jika dibandingkan dengan pilihan wisata gua lain yang ada di Yogyakarta, Gua Sriti cenderung sepi peminat. Bahkan ketika liburan pun, pengunjung yang datang tidak lebih dari 50 orang. Tidak dapat dipungkiri, destinasi wisata yang hanya menawarkan pengalaman sejarah belum banyak diminati oleh sebagian besar masyarakat.

Namun, bukan berarti Gua Sriti tidak layak dikunjungi. Pengunjung bisa belajar tentang salah satu peristiwa sejarah yang kemungkinan sudah banyak diketahui orang. Gua Sriti merupakan tempat persembunyian kedua Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya. Tempat persembunyian pertama berada di Gua Selarong Bantul. Jika memiliki waktu yang cukup luang, pengunjung bisa mengunjungi keduanya secara berurutan.

Jika Gua Selarong digunakan Pangeran Diponegoro saat awal perang gerilya dilaksankan, Gua Sriti digunakan sebelum usainya perang dan berakhir dengan penangkapan Pangeran Diponegoro secara licik oleh pasukan Belanda. Ketika mengunjungi Gua Sriti, akan lebih baik jika ditemani oleh pemandu wisata atau juru kunci. Mereka akan membantu pengunjung untuk menjelaskan lebih detail dari setiap bagian yang ada dalam gua.

Seperti kebanyakan gua, Gua Sriti juga menawarkan keindahan stalaktit dan stalagmit yang ada. Selain itu, karena berada di daerah Pegunungan Menoreh, pengunjung bisa menikmati keindahan pemandangan yang membentang. Swafoto merupakan hal wajib yang dilakukan pengunjung untuk mengabadikan momen ketika berkunjung ke Gua Sriti.

Seperti yang telah dijelaskan, sepinya peminat bukan berati membuat pengelola diam di tempat. Perlu adanya pengembangan fasilitas dan penawaran yang sekiranya bisa diberlakukan di Gua Sriti. Tentu saja pelaksanaan hal tersebut dengan tetap menjaga keaslian sejarah yang ada. Selain itu, pengelola juga sebaiknya memberikan lebih banyak promosi agar destinasi wisata Gua Sriti tidak mati dan kehidupan sejarah tetap abadi.

Menilik Kembali Perjuangan Pangeran Diponegoro di Gua Selarong

Bagi sebagian orang, Gua Selarong sudah cukup dikenal. Apalagi yang memiliki fokus dalam hal sejarah. Ya, Gua Selarong adalah markas Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya. Dulunya, gua ini digunakan sebagai tempat bersembunyi dan mengatur strategi untuk melawan penjajah dari Belanda. Sebagai pengingat, Perang Diponegoro terjadi pada 1825 hingga 1830. Suatu ingatan sejarah yang tidak bisa dilupakan hingga kapanpun.

Sekarang ini, Gua Selarong menjadi salah satu wisata gua di Yogyakarta dengan banyak peminat. Adanya rasa penasaran dan ingin mengenal lebih jauh tentang peninggalan zaman dahulu menjadi alasan sebagian besar masyarakat yang berkunjung. Terletak di Kabupaten Bantul, tepatnya di Desa Guwosari, Pajangan, para pengunjung rela menempuh jarak 15 kilometer dari pusat kota Yogyakarta untuk mengunjungi gua tersebut.

Sesampainya di lokasi, pengunjung akan disambut oleh Patung Pangeran Diponegoro yang menunggangi kuda mengenakan jubah putih. Jubah putih ini memiliki arti kesucian yang dimiliki Pangeran Diponegoro semasa hidupnya. Selain disambut dengan patung, ada juga pohon beringin besar dan loket penjualan karcis kecil yang ada di bawahnya. Sebelum memasuki Gua Selarong, pengunjung diwajibkan membayar biaya retribusi sebesar dua ribu rupiah.

Pengunjung harus melewati anak tangga sejauh 400 meter untuk memasuki Gua Selarong. Gua Selarong diambil dari gabungan kata selo yang berarti batu dan rong yang berarti lubang. Di Gua Selarong terdapat dua mulut gua. Mulut gua pertama bernama Gua Kakung, gua ini adalah tempat Pangeran Diponegoro dan para pengikkutnya beristirahat. Sedangkan mulut gua kedua bernama Gua Putri, gua ini menjadi tempat istirahat Raden Ayu Ratnaningsih, istri Pangeran Diponegoro.

Disamping Gua Putri terdapat air terjun yang bisa dinikmati keindahannya. Selain itu ada dua sendang yang tak kalah menarik perhatian, yaitu sendang manik moyo dan sendang umbul moyo. Bagi pengunjung yang ingin beristirahat sejenak, terdapat juga pendopo yang bisa digunakan. Fasilitas berupa toilet dan musala juga tidak lupa dikelola dengan baik untuk kenyamanan pengunjung. Bagi wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh berupa patung primitif yang terbuat dari kayu, bisa dibeli di Sanggar Diponegoro yang berada satu lokasi dengan Gua Selarong.

Gua Cerme: Wisata Gua di Yogyakarta yang Patut Dicoba

Banyak sekali wisata gua di Yogyakarta yang bisa dikunjungi. Salah satunya adalah Gua Cerme yang terletak di Kabupaten Bantul. Tepatnya di Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri. Gua Cerme sangat cocok untuk dijadikan tracking bagi para pengunjung karena kondisi alam yang ditawarkan oleh gua tersebut.

Gua Cerme memiliki panjang sejauh 1,5 kilometer. Hal itulah yang menyebabkan Gua Cerme cocok untuk dijadikan tempat tracking, apalagi bagi para pemula. Di dalam gua ini juga terdapat sungai bawah tanah. Bagi para pengunjung bisa mengunjungi Gua Cerme saat musim kemarau, karena dikhawatirkan ketika musim hujan atau musim peralihan debit air akan meningkat. Jika demikian, pihak pengelola tidak mengijinkan pengunjung untuk masuk ke gua karena alasan keselamatan dan keamanan.

Asal – usul penamaan Gua Cerme dilatarbelakangi oleh keberadaan Walisongo. Dahulu, Gua Cerme dijadikan tempat berceramah oleh para wali. Selain itu, Gua Cerme juga dijadikan tempat berdiskusi ketika Walisongo ingin mendirikan Masjid Demak. Itulah mengapa Gua Cerme dinamakan demikian karena fungsinya saat masa Walisongo.

Gua Cerme masih digunakan sebagai tempat semedi oleh kebanyakan orang hingga sekarang. Beberapa pengunjung juga memiliki alasan religius ketika memutuskan untuk mengunjungi tempat ini. Namun, jpara pengunjung jangan takut ataupun was – was, tidak terjadi apapun, asalkan tetap menjaga sikap dan kesopanan. Disini juga disediakan pemandu yang akan menunjukkan tempat – tempat yang ada dalam gua.

Biaya sewa pemandu dikenakan tarif 50 ribu rupiah untuk memandu 15 orang. Jika lebih dari itu, pengunjung dikenakan tarif 4 ribu rupiah per orang. Selain menyewa pemandu, pengunjung juga diwajibkan membayar biaya retribusi sebesar 3 ribu rupiah. Jika membawa kendaraan, pengunjung dikenakan biaya sebesar 3 ribu rupiah.

Tracking di Gua Cerme membutuhkan stamina yang harus cukup fit karena gua yang cukup panjang. Di dalam, pengunjung akan menikmati keindahan stalaktit dan stalagmit dengan air yang menetes. Kewaspadaan harus tetap diperhatikan ketika menikmati itu semua. Dikhawatirkan jika tidak waspada, pengunjung akan terpeleset.

Sebagai informasi, di dalam gua sangatlah gelap. Pengunjung bisa menyewa head lamp atau senter seharga 5 ribu rupiah. Selain itu, ada baiknya jikapengunjung membawa baju ganti karena baju yang dikenakan ketika tracking pasti bahas karena harus melewati aliran sungai di dalam gua.

 

Melakukan Penjelajahan di Gua Gajah Mangunan

Tempat wisata di Yogyakarta seperti tidak pernah ada habisnya. Tidak jauh dari Kebun Buah Mangunan yang telah terlebih dahulu terkenal, terdapat Gua Gajah yang bisa dijadikan salah satu destinasi wisata gua di Yogyakarta. Jaraknya dari Kebun Buah Mangunan sekitar dua kilometer, sedangan dari pusat Kota Yogyakarta sekitar satu jam. Tidak terlalu jauh bagi pengunjung yang ingin mencoba tempat wisata alam baru.

Gua Gajah berlokasi di Desa Lemah Abang, tepatnya di Mangunan, Dlingo, Kabupaten Bantul.sebelum mengunjungi gua ini, pengunjung bisa menikmati sunrise terlebih dahulu di Bukit Panguk yang tidak terlalu jauh dari Gua Gajah. Tidak seperti wisata gua yang lain, Gua Gajah masih belum ditangani seperti wisata gua yang lain. Walaupun sudah ada penanda yang terpasang di sepanjang jalan, tapi belum ada penangan serius dari pemerintah setempat.

Hal tersebut juga dibuktikan dengan tidak adanya biaya retribusi. Jadi, bagi pengunjung yang ingin menjajal Gua Gajah sebagai lokasi wisata cukup membayar dana sebesar dua ribu rupiah untuk parkir dan lima ribu rupiah untuk menyewa senter. Pemandu yang menemani bisa diberi uang seikhlasnya. Sebagai informasi, lahan parkir Gua Gajah hanya bisa untuk kendaraan beroda dua, sedangkan untuk kendaraan dengan jumlah roda lebih dari itu harus parkir di tempat yang agak jauh dari Gua Gajah.

Penamaan Gua Gajah didasari oleh keberadaan patung yang menyerupai seekor gajah. Patung tersebut bisa ditemukan di ujung gua dekat pintu keluar. Pintu masuk Gua Gajah berbentuk horizontal. Tidak ada penerangan sama sekali dalam gua dengan panjang sekitar 200 meter. Hanya lampu senter yang disewalah sumber penerangan di dalam. Hal yang perlu diingat ketika mengunjungi Gua Gajah adalah jalannya yang licin. Pengunjung diharap mengenakan alas kaki anti slip sehingga tidak mudah terpeleset.

Banyak keindahan yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Karena ondisinya yang jarang dijamah oleh manusia, keaslian Gua Gajah masih sangat terasa. Cantiknya stalaktit dan stalagmit dengan air yang menetes menambah sensasi menyenangkan yang dapat dirasakan oleh pengunjung. Selain itu, adanya vegetasi subur menjadi hal menarik lainnya yang dapat dijadikan penyegaran.

Di ujung gua dekat pintu keluar, pengunjung akan disuguhkan dengan Cahaya dari Surga. Hal tersebut berasal dari terobosan cahaya sinar matahari dari lubang lebar. Apalagi jika pengunjung berada di gua sekitar pukul 12 siang, Cahaya dari Surga akan semakin terasa. Hal terakhir sebelum meninggalkan gua adalah jalan keluar vertikal setinggi 10 meter. Hal tersebut menjadi tantangan tersediri bagi pengunjung dan dapat menjadi kenangan indah yang tidak terlupakan.

Belajar Peristiwa Kuno dari Gua Rancang Kencono

Memperlajari sejarah bisa dari mana saja. Termasuk dari Gua Rancang Kencono di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, tepatnya di Desa Bleberan, Kecamatan Playen. Salah satu wisata gua di Yogyakarta ini mengandung nilai sejarah yang bisa dipelajari, baik oleh anak-anak ataupun orang dewasa.

Gua Rancang Kencono bisa ditempuh selama kurang lebih dua jam dari pusat kota Yogyakarta. Tidak perlu bingung menuju gua ini karena sudah banyak penanda yang dipasang sepasang jalan. Selain itu jika ingin lebih mudah bisa menggunakan bantuan teknologi seperti Google Maps atau Waze. Sampai di lokasi, pengunjung disambut oleh gagahnya Pohon Klumpit raksasa yang telah berusia lebih dari dua abad.

Pohon Klumpit terletak di tengah Gua Rancang Kencono. Pengunjung bisa menuruni anak tangga dari batu untuk dapat masuk di tanah lapang seluas 20 x 20 meter persegi dengan tinggi 12 meter. Dari sinilah nama Gua Rancang Kencono terbentuk. Konon katanya, di tempat ini para Laskar Mataram membuat rencana untuk mengusir penjajah Belanda dari tanah Yogyakarta. Hal tersebut juga dibuktikan dengan adanya arca yang ditemukan di dalam Gua Rancang Kencono.

Ada beberapa ruang yang bisa ditemukan di dalam Gua Rancang Kencono. Ruang pertama adalah tanah lapang yang telah disebutkan. Sekarang ini, lapangan tersebut difungsikan sebagai lahan berkemah atau camping. Pengunjung hanya perlu menghubungi pengurus setempat untuk mendapatkan izin. Selanjutnya ada ruang lain yang lebih kecil.

Ruang inilah yang menjadi tempat dimana arca bukti asal-usul nama Rancang Kencono ditemukan. Ruang lainnya juga berisi barang peninggaan berupa prasasti. Prasasti tersebut dinamakan Prasetya Bhinekaku yang berisi banya doa untuk tanah air serta janji setia untuk berbakti kepada ibu pertiwi yang dibagi menjadi 12 poin.

Setelah puas menjelajahi tiga ruang Gua Rancang Kencono, pengunjung bisa memasuki lorong lain yang menghubungkan dengan aliran Sungai Oya. Di salah satu sisi sungai ini terdapat air terjun yang cukup terkenal bernama Air Terjun Sri Gethuk atau yang juga dikenal dengan sebutan Slempret atau Sompret. Hal yang menjadikan Air Terjun Sri Gethuk istimewa adalah airnya yang terus mengalir walaupun saat musim kemarau sekalipun.

Selain menikmati keindahan air terjun, pengunjung juga bisa menjajal cliff jumping, body rafting, river tubing dan canyoning dengan fasilitas yang telah disediakan. Pengunjung hanya perlu mengeluarkan dana sebesar 35 ribu rupiah untuk bisa menikmati 2 lokasi wisata alam yang hanya dipisahkan jarak sejauh satu kilometer.

Memacu Adrenalin di Gua Jomblang Gunung Kidul

Salah satu wisata gua di Yogyakarta yang bisa dikunjungi adalah Gua Jomblang. Terletak sekitar 50 km dari Yogyakarta atau 10 km dari Kota Wonosari, Gua Jomblang tepat berada di Desa Jetis Wetan, Semanu di Kabupaten Gunung Kidul. Gua Jomblang menawarkan sensasi yang berbeda saat memasuki mulut gua.

Hal yang membuat berbeda adalah adanya mulut gua vertikal yang harus dilewati pengunjung sebelum menikmati indahnya vegetasi subur di dasar gua. Kedalaman gua dari mulut gua variatif, paling dalam sejauh 80 m. Hal tersebutlah yang menyebabkan para pengunjung wajib mengenakan teknik tali tunggal atau Single Rope Technique (SRT). Perlatan yang digunakan untuk SRT adalah peralatan khusus dan harus memenuhi standar yang ada. Saat memasuki Gua Jomblang, pengunjung akan ditemani oleh pemandu yang cukup berpengalaman untuk ikut menjaga keselamatan selain dari alat yang telah digunakan.

Ada empat jalur yang bisa dilalui untuk memasuki mulut Gua Jomblang dengan diameter 50 m ini. Jalur pertama disebut Jalur VIP. Jalur ini merupakan jalur yang sangat disarankan untuk pemula. Pengunjung hanya harus melewati lintasan terjal sejauh 15 m dan melanjutkan dengan SRT sejauh 20 m. Bagi yang sudah berpengalaman dan merasa mampu, bisa melewati jalur A, B dan C yang jauh lebih terjal. Jalur A mewajibkan pengunjung untuk masuk ke dalam gua menggunakan SRT sejauh 80 m, jalur B 60 m dan jalur C 40 m.

Setelah melewati rintangan yang cukup memacu adrenalin, pengunjung akan disuguhi dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Terdapat banyak tumbuhan di dasar gua yang disebut dengan Hutan Purba. Hutan Purba memiliki banyak jenis tanaman berupa lumut, tanaman paku, semak hingga pohon besar. Setelah menikmati eksotisnya Hutan Purba, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan dengan melewati sebuah lorong yang akan mengantarkan sampai Luweng Grubug.

Luweng Grubug juga merupakan sebuah gua vertikal dengan mulut gua vertikal sebesar 90 m. Dalam gua ini mata pengunjung akan dimanjakan dengan keindahan stalaktit dan stalagmit yang ada. Suara deras air sungai bawah tanah dari Kalisuci juga menambah cantiknya suasana yang bisa dinikmati.

Sebelum memasuki gua, barang pengunjung bisa dititipkan di rumah kepala dukuh setempat. Setelah memasuki gua pun, pengunjung bisa membersihkan diri di kamar mandi yang telah disiapkan. Tidak ada harga tiket masuk ketika mengunjungi Gua Jomblang. Pengunjung bisa memberikan uang seikhlasnya kepada kepala dukuh yang telah memberikan fasilitas-fasilitas tersebut.

Melihat Stalaktit dan Stalagmit terbesar ke-4 Dunia di Gua Pindul

Gua Pindul menjadi salah satu tempat wisata gua di Yogyakarta yang cukup banyak diminati oleh wisatawan, apalagi saat musim liburan tiba. Terletak di Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya di Desa Bejiharo, Kecamatan Karangmojo, Gua Pindul bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dengan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Lokasinya cukup mudah dijangkau dengan bantuan teknologi berupa Google Maps. Jalan yang dilalui pun tidak terlalu buruk karena sudah diaspal.

Gua Pindul dibuka untuk umum secara resmi pada 10 Oktober 2010. Keunikan yang ditawarkan menjadi daya tarik bagi para pengunjung. Hal pembeda Gua Pindul dengan wisata gua di Yogyakarta yang lain adalah, para pengunjung harus menggunakan ban karet untuk menelusuri gua. Hal tersebut dikarenakan adanya aliran sungai yang membentang dari pintu masuk hingga pintu keluar gua kapur ini. Namun, jangan panik. Aliran sungai yang berasal dari mata air Gedong Tujuh ini aman karena sangat tenang, baik pada musim kemarau ataupun musim hujan.

Sungai di Gua Pindul memiliki panjang tujuh meter dan lebar lima meter. Jarak antara permukaan air sungai dan atap adalah empat meter. Sedangkan kedalaman sungai bervariasi antara lima hingga dua belas meter, tergantung dari zona sungainya. Terdapat tiga zona di Gua Pindul. Zona terang adalah bagian yang paling banyak terkena tembusan sinar matahari. Pada zona ini, pengunjung bebas bermain air ditemani dengan ikan-ikan kecil yang tidak mengganggu. Selain itu, di ujung zona ini terdapat bagian yang disebut Sumur Terbalik, istilah untuk lubang lebar yang memberikan sumbangan cahaya yang besar.

Setelah melewati zona terang, pengunjung akan memasuki zona remang. Di zona ini, mata pengunjung semakin dimanjakan dengan kehadiran stalaktit dan stalagmit yang sudah berumur ribuan tahun. Hal yang membuat istimewa adalah, stalaktit dan stalagmit di Gua Pindul masih aktif dan keberadaannya menjadi satu di tengah. Pertumbuhan itu menyebabkan stalaktit dan stalakmit sebesar rentangan lima lengan orang dewasa dan menjadi terbesar ke-4 di dunia.

Selanjutnya ada zona gelap yang mengharuskan adanya penerangan tambahan dari head lamp atau senter. Pada zona ini, akan terlihat banyak kelelawar yang bersembunyi. Hiasan batu kristal dan moonmilk serta adanya tetesan air pada dinding gua menjadi hal lain yang bisa dinikmati selama 45 menit perjalanan di Gua Pindul.

Harga tiket masuk Gua Pindul sebesar 45 ribu rupiah. Dengan harga tersebut, pengunjung sudah bisa mendapat fasilitas ban karet, jaket pelampung dan pemandu. Barang bawaan bisa dititipkan di penitipan barang. Banyak sekali jenis paket wisata yang ditawarkan di lokasi wisata. Ada baiknya pengunjung mengecek paket yang tersedia untuk mendapat harga dan fasilitas yang sesuai.